Photobucket

Bahaya Merokok : Lima Kali Merokok, Setara Mengisap Ganja

Para ahli kesehatan di Medical Research Institute (MRI) New Zealand melaporkan mengisap ganja atau mariyuana terbukti meningkatkan dampak kerusakan paru-paru yang setara dengan lima kali mengisap rokok biasa. Hasil penelitian MRI itu dipublikasikan di jurnal kesehatan Inggris, Thorax, Senin (30/7) lalu.

Dalam penelitiannya, MRI merekrut 339 relawan yang dibagi empat kategori. Yaitu pengisap ganja, perokok biasa, pengisap ganja dan rokok, serta yang tidak mengonsumsi keduanya. Yang dimasukkan dalam kategori pertama adalah pengisap ganja setiap hari selama lima tahun.

Sementara kategori kedua merupakan pengisap satu bungkus rokok per hari selama setahun.

Para relawan diperiksa dengan pemindai tomografis komputer (CT scan) guna mengetahui bentuk paru-paru dan melihat aliran udara di dalamnya. Studi, dengan menggunakan tes fungsi paru-paru, resolusi tinggi sinar X dan beberapa pertanyaan ini mengungkapkan, pengisap ganja diketahui mengalami kerusakan di paru-parunya, terutama di saluran udara yang lembut untuk menyalurkan oksigen dan menyaring gas buang. Akibatnya, paru-paru pengisap ganja harus bekerja lebih keras.

“Masyarakat perlu memperhatikan bahaya merokok atau mengisap ganja. Apalagi ganja merupakan narkoba yang paling banyak digunakan di seluruh dunia,” kata Richard Beasley, pemimpin penelitian itu.

Badan Pengawas Obat dan Kejahatan PBB melaporkan, selama tahun 2006, sekitar 160 juta orang memakai ganja atau mariyuana, dan Beasley menjelaskan, penyebab tingginya kerusakan paru-paru lantaran pemakainya sering mengisapnya dalam-dalam sehingga asapnya terasa panas ketika memasuki saluran pernafasan.

Studi lebih awal sudah menunjukkan, merokok mengakibatkan karbon monoksida dan tar terhirup dibanding menghisap satu rokok dalam ukuran yang sama. Riset juga menunjukkan bahwa ” produk pembakaran” di dalam ganja serupa dengan tembakau, ujar Beasley.

Tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam yang terdapat dalam rokok. Ia terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Sedang karbon monoksida, sejenis gas yang tidak memiliki bau. Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Zat ini sangat beracun. Jika zat ini terbawa dalam hemoglobin, akan mengganggu kondisi oksigen dalam darah. Sedang nikotin, cairan berminyak yang dapat menghalangi kontraksi rasa lapar. Biasanya, seseorang bisa tidak merasakan lapar karena merokok.

Sementara itu, umah sakit spesialis di New Zealand juga melihat adanya peningkatan jumlah orang-orang berpenyakit paru-paru yang berhubungan dengan ganja dan merokok. [afp/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah


Gorengan-gorengan Penyebab Kanker Usus Besar

Salah satu penyebab terjadinya kanker usus besar (kanker kolon) adalah akibat pola makan yang salah. Ternyata sering mengonsumsi gorengan dan juga daging merah bisa memicu terjadinya kanker usus besar.

"Dari pagi masyarakat sudah disuguhi gorengan dengan minyak yang dipakai berkali-kali dan mengandung racun yang bisa merusak dinding usus," ujar Dr Aru W Sudoyo, MD, PhD, FACP dalam acara Patient Gathering Sanofi Aventis 'Kanker Usus Besar Bisa Dicegah' di Hotel Sahid Jaya.

Dr Aru menuturkan dalam membuat gorengan biasanya menggunakan minyak yang sudah dipakai berulang-ulang sehingga mengandung racun dan juga radikal bebas. Selain itu minyak sendiri juga bisa memicu terbentuknya asam empedu di dalam usus, asam empedu ini bisa mengiritasi usus.

"Daging merah yang dimasak pada suhu tinggi bisa menghasilkan senyawa acrylamid yang dapat menyebabkan kanker," ujar dokter yang menjabat sebagai ketua PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia).

Dr Aru menuturkan ada beberapa hal yang bisa menjadi faktor risiko dari kanker usus besar ini yaitu:

1. Diet rendah serat dan tinggi lemak
2. Usia, umumnya meningkat pada kelompok usia di atas 50 tahun
3. Adanya polip pada kolon atau usus besar
4. Adanya riwayat kanker usus besar dalam keluarga
5. Mengidap penyakit radang usus yang tidak diobati
6. Kebiasaan mengonsumsi daging merah
7. Kurangnya konsumsi sayuran, buah-buahan dan ikan
8. Kurang melakukan aktivitas fisik
9. Kelebihan berat badan atau overweight
10. Memiliki kebiasaan merokok


Kanker usus besar adalah suatu keganasan yang terjadi di dalam usus besar sampai dengan dubur dan lebih banyak menimpa kaum laki-laki. Diperkirakan sekitar 75 persen penderita kanker usus besar tidak sadar kalau ia terkena penyakit tersebut, karena gejalanya tidak langsung terlihat tapi baru muncul setelah bertahun-tahun kemudian.

"Jenis kanker ini merupakan yang paling bisa dicegah (most preventable) dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan," ujar dokter yang lahir di Washington DC 59 tahun silam.

Gejala yang muncul dari kanker usus besar umumnya adalah:

1. Perdarahan pada usus besar yang ditandai dengan adanya darah pada feses saat buang air besar
2. Perubahan pola buang air besar seperti menjadi keras, lembek atau kotorannya kecil-kecil
3. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
4. Rasa sakit di perut atau bagian belakang
5. Perut masih terasa penuh meski sudah buang air besar
6. Kadang muncul beberapa gejala umum seperti sembelit, rasa sakit atau kembung di perut


Deteksi dini bisa dengan melakukan pemeriksaan feses untuk mencari darah samar, melakukan kolonoskopi atau melakukan pemeriksaan feses untuk DNA testing (pemeriksaan ini lebih sensitif).

Umumnya kanker ini bergerak secara perlahan-lahan dan diam-diam, memerlukan waktu sekitar 15-20 tahun untuk berkembang, sehingga sangat penting untuk terdeteksi secara dini.

"Kebanyakan masyarakat enggan untuk pergi memeriksakan gejala kanker usus besar ke dokter karena malu atau bahkan tidak berpikir dirinya mungkin terkena kanker ini. Padahal deteksi jenis ini merupakan prosedur yang paling mudah dan sederhana," ujar Dr Ibrahim Basir, SpB-KBD dari FKUI-RSCM.

Untuk itu perlu dilakukan deteksi dini dan skrining untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan harapan hidup, karena penyakit ini bisa disembuhkan jika ditemukan secara dini serta bisa dicegah dengan pola hidup yang baik dan sehat.[VOA-Islam]


Hasiat Bawang Merah

SEBUAH penelitian baru menunjukkan bahwa bawang merah dapat membantu dalam mengatur berat badan, mencegah diabetes, dan mengurangi tekanan darah.

Melalui penelitian itu, ilmuwan biomedical di University of Southern Queensland telah menunjukkan bahwa bawang bisa memerangi obesitas, diabetes, dan kenaikan tekanan darah, menurut laporan Courier Mail.

Mereka menyoroti ekstraksi rutin dari proses pembalikan lemak bawang pada tikus di laboratorium. Terbukti proses itu mampu menurunkan tekanan darah, membalikkan masalah glukosa, dan memperbaiki kerusakan hati. Studi ini akan dipublikasikan di bulan depan pada Journal of Nutrition.(MI/BEY)


Minum SoftDrink = Meracuni Tubuh Anda

Jakarta, Minuman ringan alias softdrink sepertinya sudah jadi tren khususnya di kalangan anak muda. Padahal sudah banyak ahli kesehatan yang mengingatkan bahwa soft drink sama sekali tidak sehat, apapun mereknya. Mengapa? . Tak ada manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari soft drink atau minuman bersoda. Yang Anda dapatkan hanyalah banyak kalori yang tidak berguna.

Selain itu, minuman bersoda juga membawa dampak buruk bagi kesehatan sama halnya dengan merokok. . Tapi sepertinya imbauan-imbauan dari dokter atau praktisi kesehatan untuk berhenti mengonsumsi soft drink jarang didengar oleh kebanyakan orang. Tren modern seakan melekat ketika seseorang minum soft drink. . Mengapa harus berhenti minum softdrink?

Dilansir dari GeniusBeauty, Rabu (7/7/2010), berikut 5 alasan kesehatan mengapa orang harus berhenti minum softdrink:

1. Obesitas (berat badan berlebihan) Peneliti di University of Texas menemukan bahwa soft drink meningkatkan risiko obesitas rata-rata 32,8 persen, sedangkan diet coke (soft drink bebas gula) justru meningkatkan risiko hingga 54,5. Maka soft drink bebas gula tak selalu sehat.

2. Kalori yang tak berguna Sebagian besar minuman soda mengandung 250 kalori per 600 ml. Tak ada kandungan nutrisi atau mineral di dalamnya, melainkan hanya gula dan kafein.

3. Kecanduan atau adiktif Soft drink juga dapat menyebabkan semacam kecanduan. Yang merangsang kecanduan adalah kandungan kafein di dalamnya. Setelah berhenti dari kebiasaan minum soft drink, Anda akan mengalami gejala putus zat seperti sakit kepala, depresi, gugup dan menggigil.

4. Meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh American Heart Association di Circulation Journal pada tahun 2007, orang yang minum soft drink setiap hari akan meningkatkan risiko sindrom metabolik, yaitu suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes, sebesar 44 persen.

5. Mengurangi jumlah sperma Hasil studi di Denmark menunjukkan laki-laki yang mengonsumsi 1 liter atau lebih soft drink setiap hari bisa berbahaya bagi spermanya. Laki-laki yang sering mengonsumsi soft drink menghasilkan sperma 30 persen lebih rendah dibandingkan yang tidak mengonsumsi soft drink.

Sumber : [2lisan.com]


Waspada Rokok Sayangi Kehidupan Anda

Jakarta, Siapa yang masih menyangsikan bahaya dari merokok? Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya membaca informasi berikut. Para peneliti dengan gamblang menjelaskan bahwa umur perokok memang lebih pendek! . Dikutip dari health24, sebuah penelitian yang dilakukan dari tahun 1974 di Norwegia terhadap 54.075 partisipan menunjukkan bahwa penyakit-penyakit kardiovaskular yang menyebabkan kematian sangat berpengaruh karena kebiasaan merokok.

Pada penelitian itu, partisipan dibagi menjadi beberapa kelompok. Yaitu kelompok perokok pasif, bekas perokok, perokok ringan (1-10 batang perhari), perokok sedang (10-20 batang perhari), dan perokok berat (lebih dari 20 batang perhari). Hasil yang cukup mencengangkan adalah 45% perokok berat pria dan 33% perokok berat perempuan, mengalami kematian pada kisaran umur 30 tahun.

Merokok juga mengakibatkan seseorang terkena penyakit jantung atau kardiovaskular. Sebanyak 21% laki-laki perokok berat terjangkit penyakit ini. Sedangkan perokok berat 11% perempuan terjangkit penyakit kardiovaskular pada umur 30 tahun. Ayo matikan rokok Anda sekarang!

Sumber: [Amelia Ayu Kinanti – detikHealth|2lisan.com]